News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kampanye Digital Didorong untuk Kurangi Pemborosan Pangan

Kampanye Digital Didorong untuk Kurangi Pemborosan Pangan

Anggota Komisi I DPR RI, Trinovi Khairani Sitorus menegaskan bahwa isu pemborosan pangan menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi bersama saat ini. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Forum Diskusi Publik bertema “Kampanye Digital untuk Mengurangi Pemborosan Pangan” yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media secara daring, Jumat (13/3/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang dimulai pada pukul 10.00 WIB berasal dari berbagai kalangan dan profesi, mulai dari mahasiswa, akademisi, komunitas digital, hingga masyarakat umum yang tertarik pada isu ketahanan pangan dan kampanye digital.

Dalam sambutannya, Trinovi menyampaikan bahwa kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Namun di sisi lain, masih banyak makanan yang terbuang di berbagai tahapan, mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi di tingkat rumah tangga.

“Setiap makanan yang terbuang tidak hanya berarti hilangnya nilai ekonomi, tetapi juga berdampak pada lingkungan serta ketahanan pangan kita,” ujarnya.

Trinovi yang juga merupakan anggota DPR RI termuda periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Sumatera Utara II dan berasal dari Fraksi Partai Golkar tersebut menambahkan bahwa upaya mengurangi pemborosan pangan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, dalam konteks perkembangan teknologi saat ini, kampanye digital memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola dan mengonsumsi pangan secara lebih bijak.

“Dengan kreativitas dan kolaborasi, kampanye digital dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang mampu menginspirasi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola dan mengonsumsi pangan,” katanya.

Ia juga berharap forum diskusi publik tersebut dapat menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam merumuskan langkah konkret guna mendorong kampanye digital yang lebih efektif dalam mengurangi pemborosan pangan.

Sementara itu, Presiden Eksekutif GESID, Viviana Hanifa menegaskan bahwa pemborosan pangan merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menurutnya, Indonesia menghasilkan sekitar 23 hingga 48 juta ton sampah makanan setiap tahun. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan cukup untuk memberi makan sekitar 61 hingga 125 juta orang per tahun sebagaimana tercatat dalam laporan Food Loss and Waste Indonesia Report.

Viviana menjelaskan bahwa pemborosan pangan tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada lingkungan dan ketahanan pangan nasional. Limbah makanan diketahui menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

“Secara global, sekitar 8 hingga 10 persen emisi gas rumah kaca berasal dari limbah makanan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kerugian ekonomi akibat pemborosan pangan di Indonesia diperkirakan mencapai Rp235 hingga Rp551 triliun per tahun. Kondisi ini dinilai ironis karena di sisi lain masih terdapat masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan makanan.

Viviana juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan. Menurutnya, generasi muda memiliki keunggulan karena melek teknologi, kreatif, inovatif serta aktif di media sosial sehingga mampu menyebarkan pesan secara cepat kepada masyarakat luas.

“Kampanye digital melalui platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X dapat menjadi cara efektif untuk mengedukasi masyarakat agar lebih menghargai makanan dan mengurangi pemborosan pangan,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia, Wildan Hakim memaparkan pentingnya membangun kesadaran publik untuk menghentikan kebiasaan membuang makanan.

Wildan menjelaskan bahwa persoalan pemborosan pangan berkaitan dengan dua istilah utama, yaitu food loss dan food waste. Food loss merupakan kehilangan kuantitas maupun kualitas bahan pangan yang terjadi pada tahap produksi hingga pascapanen, seperti proses pemanenan, penyimpanan dan pengolahan.

"Indonesia termasuk negara dengan tingkat pemborosan makanan yang cukup tinggi. Bahkan diperkirakan jumlah sampah makanan dapat mencapai sekitar 300 kilogram per orang setiap tahun." Ujarnya.

Wildan juga menyoroti bahwa salah satu makanan yang paling sering terbuang di rumah tangga adalah nasi. Hal ini sering terjadi karena masyarakat mengambil porsi makan yang berlebihan sehingga makanan tersisa dan akhirnya dibuang.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah perilaku konsumsi dengan mengambil makanan secukupnya, mengelola penyimpanan bahan pangan dengan baik serta membeli bahan makanan sesuai kebutuhan.

Menurutnya, teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana kampanye yang efektif untuk mendorong gerakan stop boros pangan melalui konten kreatif, data yang kuat serta ajakan nyata kepada masyarakat.

Tags