Bogor Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Bogor – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada aspek produksi dan distribusi, tetapi juga pada perubahan pola konsumsi masyarakat. Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam Forum Diskusi Publik bertema “Peran Influencer dan Komunitas Digital dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal” yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (4/3/2026).
Forum yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital ini diikuti ratusan peserta yang mayoritas berasal dari Kabupaten Bogor, terdiri dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi, komunitas digital, pegiat UMKM, akademisi, serta masyarakat umum.
Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, M.Si sebagai keynote speaker, serta dua narasumber yakni Wildan Hakim, S.Sos., M.Si (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UAI) dan Syarifuddin, M.Si (Peneliti Indonesia South–South Foundation).
Dalam sambutan sekaligus membuka acara, H. Anton Sukartono Suratto yang juga merupakan wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Kabupaten Bogor menegaskan bahwa meskipun stok beras nasional relatif aman, ketergantungan terhadap satu komoditas tetap berisiko dalam jangka panjang.
“Indonesia adalah negara pengonsumsi beras. Stok kita aman, tetapi bukan berarti kita boleh terus-menerus bergantung pada beras. Tubuh kita juga harus dilatih untuk mengonsumsi jenis makanan lain,” ujarnya.
Ia menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim, pemanasan global, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas pangan dunia. Menurutnya, pangan lokal seperti ubi, talas, singkong, dan jagung dapat menjadi solusi strategis dalam mengantisipasi potensi kelangkaan beras.
“Diversifikasi pangan adalah bagian dari strategi kemandirian bangsa. Jika kita hanya bertumpu pada satu komoditas, maka kita menjadi rentan,” tegasnya.
Anton juga menekankan potensi besar Kabupaten Bogor sebagai daerah yang kaya akan sumber pangan lokal, seperti talas Bogor dan singkong, yang tidak hanya bernilai gizi tinggi tetapi juga memiliki potensi ekonomi besar.
“Kalau bukan masyarakat Bogor yang bangga dan mengonsumsi hasil buminya sendiri, lalu siapa?” katanya.
Ia secara khusus mengajak para influencer, content creator, dan komunitas digital di Bogor untuk mengambil peran aktif dalam kampanye ini.
“Sekarang bukan hanya soal produksi pangan, tapi bagaimana membangun kebanggaan. Influencer bisa membuat talas dan singkong menjadi tren, bukan sekadar konsumsi alternatif,” ujar Anton yang juga Wakil Ketua Komisi I DPR RI.
Dalam sesi pemaparan materi, Wildan Hakim menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan, tetapi juga pola konsumsi masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh media digital.
“Pertanyaannya sederhana, apakah kita harus terus bergantung pada beras sebagai satu-satunya bahan pangan? Diversifikasi bukan berarti meninggalkan beras, tetapi memperluas pilihan dan membiasakan konsumsi yang lebih beragam,” ujarnya.
Menurutnya, di era digital saat ini opini publik banyak dibentuk oleh konten media sosial. Influencer memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan tren konsumsi, khususnya di kalangan generasi muda.
“Anak muda hari ini mungkin lebih terpengaruh oleh TikTok atau Instagram dibandingkan seminar formal. Influencer bisa mengubah persepsi bahwa pangan lokal itu kuno menjadi sesuatu yang modern dan membanggakan,” jelasnya.
Wildan menambahkan, peran influencer tidak hanya sebatas promosi, tetapi juga edukasi. Konten kreatif seperti resep berbahan pangan lokal, tantangan kuliner sehat, ulasan produk UMKM, hingga storytelling tentang petani lokal dinilai efektif dalam membangun kesadaran kolektif.
“Kampanye harus persuasif, bukan instruktif. Bukan melarang makan nasi, tetapi mengajak mencoba alternatif yang sehat dan membanggakan,” tambahnya.
Sementara itu, Syarifuddin menyoroti data konsumsi pangan nasional yang masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap beras dan komoditas impor seperti gandum.
“Skor Pola Pangan Harapan kita memang cukup baik, tetapi belum ideal. Konsumsi buah dan sayur juga masih perlu ditingkatkan. Artinya, kita masih punya pekerjaan rumah dalam membangun pola konsumsi yang lebih beragam dan bergizi seimbang,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa diversifikasi pangan memiliki dampak luas, tidak hanya pada gizi keluarga tetapi juga terhadap ketahanan pangan rumah tangga dan ekonomi daerah.
“Jika keluarga membiasakan konsumsi lebih banyak umbi, sayur, dan protein lokal, dampaknya sangat besar. Kita mendukung petani, mendorong pertumbuhan UMKM pangan lokal, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, ketika influencer turut mempromosikan produk pangan lokal, maka dampaknya bisa langsung dirasakan oleh pelaku UMKM dan petani di daerah.
Diskusi yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut berlangsung dinamis dan interaktif. Ratusan peserta aktif mengajukan pertanyaan serta berbagi pengalaman terkait pola konsumsi di daerah masing-masing.
Beberapa peserta menanyakan strategi konkret agar kampanye diversifikasi pangan tidak hanya menjadi tren sesaat, serta bagaimana kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas digital, dan kreator konten dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Para narasumber sepakat bahwa edukasi berbasis data, konsistensi kampanye, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan gerakan diversifikasi pangan di ruang digital. Influencer dinilai dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan masyarakat, sekaligus motor penggerak perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan mandiri.
Melalui forum ini, diharapkan Kabupaten Bogor dapat menjadi pelopor gerakan diversifikasi pangan berbasis digital, sekaligus contoh bagi daerah lain dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi serta kebanggaan terhadap pangan lokal Indonesia.