Trinovi Khairani Sitorus: Literasi Digital Cegah Risiko Pinjol
Anggota Komisi I DPR RI, Trinovi Khairani Sitorus, B.A., menegaskan bahwa peningkatan akses layanan keuangan digital di Indonesia harus dibarengi dengan literasi yang memadai. Menurutnya, tanpa pemahaman yang cukup, kemudahan teknologi justru dapat berubah menjadi risiko nyata bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Trinovi saat menjadi keynote speaker dalam Forum Diskusi Publik bertema "Literasi Keuangan Digital" yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bekerja sama dengan DPR RI secara daring pada Kamis (2/4/2026).
"Hari ini transaksi keuangan bisa dilakukan hanya melalui genggaman tangan. Namun, di balik kemudahan itu ada tantangan besar. Risiko seperti penipuan online, phishing,hingga pinjaman online (pinjol) ilegal masih sering terjadi karena kurangnya literasi," ujar Trinovi Khairani dalam sambutannya.
Legislator dari daerah pemilihan Sumatera Utara II yang juga merupakan anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai Golkar yang lolos pada usia 26 tahun, menjadikannya salah satu legislator termuda mengajak masyarakat untuk menjadi cerdas secara finansial melalui perencanaan keuangan yang sehat dan keputusan investasi yang rasional. Ia berharap masyarakat, khususnya di Sumatera Utara, tidak hanya "melek digital" tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk kemandirian ekonomi.
Senada dengan Trinovi, Pakar Budaya Digital Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. (Kang Arul), mengungkapkan data mengejutkan terkait demografi pengguna pinjaman online. Ia menyoroti adanya fenomena "Darurat Pinjol" yang menyasar kelompok produktif dan tenaga pendidik.
"Sangat mengejutkan, data menunjukkan bahwa profesi guru menjadi yang paling banyak terjerat pinjol dengan persentase 42 persen, disusul korban PHK dan ibu rumah tangga," ungkap Dr. Rulli.
Ia menjelaskan bahwa rendahnya literasi keuangan menyebabkan masyarakat terjebak dalam siklus "gali lubang tutup lubang". Dr. Rulli juga mengingatkan bahaya gagal bayar galbay yang berujung pada teror debt collector hingga skor kredit buruk di SLIK OJK yang dapat menutup akses perbankan di masa depan.
Sementara itu, narasumber lainnya, Aditya S., B.Commerce, menyoroti ketimpangan antara inklusi (akses) dan literasi (pemahaman) keuangan di Indonesia. Menurutnya, meskipun akses terhadap layanan perbankan digital dan fintech kini sangat mudah, banyak masyarakat yang belum memahami konsekuensi jangka panjang dari produk yang mereka gunakan.
Aditya memberikan peringatan keras melalui kampanye Pahami atau Tinggalkan. Ia mencontohkan simulasi bunga pinjaman konsumtif yang sangat tinggi, seperti pada penggunaan fitur paylater untuk barang elektronik.
"Jika tidak memahami skema bunga dan risiko sebuah produk keuangan, lebih baik ditinggalkan. Jangan sampai terjebak utang yang tidak produktif hanya demi gaya hidup konsumtif," tegas Aditya.
Forum diskusi publik ini merupakan upaya kolaboratif antara Komdigi dan DPR RI untuk membentengi masyarakat dari kejahatan digital sekaligus mendorong pemanfaatan ekonomi digital secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat luas.
Kegiatan Forum Diskusi Publik ini dapat disaksikan kembali melalui siaran ulang di kanal YouTube @studiocikajang19